Banyak orang tua merasa ragu saat mendengar kata “kebebasan” dalam metode Montessori. Muncul ketakutan bahwa anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur, tidak bisa diam, atau tidak mau mendengar instruksi. Namun, benarkah demikian? Mari kita bedah perbedaan antara freedom with limit dan permisif dan bagaimana freedom with limit justru dapat menyiapkan anak untuk masa depan.
1. Freedom within Limits Bukanlah Permisif
Langkah pertama adalah meluruskan definisi. Ada garis tegas yang memisahkan kebebasan Montessori dengan pola asuh permisif.
Pola Asuh Permisif yaitu anak dibiarkan melakukan apa saja tanpa konsekuensi atau struktur. Tidak ada batasan yang jelas, sehingga anak merasa “berkuasa” namun sebenarnya bingung karena tidak ada panduan perilaku.
Namun sebaliknya, Freedom within Limits (Kebebasan dalam Batasan) yaitu anak diberi kebebasan untuk memilih aktivitas yang menarik minatnya, selama aktivitas tersebut tidak merusak diri sendiri, tidak mengganggu orang lain, dan tidak merusak lingkungan.
Di sekolah Montessori, anak bebas memilih bekerja dengan alat yang mereka sedang tertarik dahulu tetapi mereka wajib merapikannya kembali ke rak setelah selesai. Inilah benih tanggung jawab yang ditanamkan sejak dini. Mengembalikan dan merapikan kembali alat ke tempat semula adalah salah satu peraturan yang disepakati bersama di kelas.
Dapat mengambil alat sesuai minatnya merupakan penerapan konsep “freedom” dan tetap ada peraturan yang harus mereka patuhi dari hasil keputusan bersama merupakan “batasannya”. Sehingga semua anak lebih teratur dan nyaman.
Dalam hal ini sudah jelas bahwa sebetulnya “freedom with limit” adalah kebutuhan anak usia dini 0-6 tahun untuk membentuk disiplin internal (self-disiplin). Disiplin internal inilah yang di sebut kepatuhan berkesadaran. Kita akan bahas tentang kepatuhan di poin selanjutnya.
2. Kekhawatiran Transisi ke Sekolah Konvensional
Banyak orang tua khawatir: “Kalau di TK bebas memilih, nanti pas SD di sekolah konvensional yang duduk diam, dia kaget tidak?”
Sebenarnya, masalah kegagalan adaptasi bukan terletak pada metodenya, melainkan pada konsistensi. Anak yang dididik dengan Freedom within Limits justru memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi karena mereka diajarkan untuk memahami “konteks” dan “aturan main” di setiap lingkungan.
Kebingungan anak biasanya muncul jika di sekolah mereka disiplin, namun di rumah orang tua sangat permisif atau tidak konsisten. Ketidakkonsistenan inilah yang membuat anak bingung, bukan kebebasan yang terukur.
Konsistensi adalah Kunci Agar Anak Tidak Bingung. Anak hanya bingung jika lingkungannya tidak konsisten. Jika di sekolah anak harus merapikan mainan, namun di rumah orang tua langsung membereskannya (karena tidak sabar atau permisif), anak akan mengalami konflik standar.
Dalam konsep Freedom within Limits (Kebebasan dalam Batasan), anak bebas memilih aktivitasnya, selama ia menghormati tiga batasan utama: menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, dan menghormati lingkungan. Sehingga anak justru lebih mudah beradaptasi di tempat baru dengan sistem yang lain, karena disiplin internalnya sudah terbentuk. Sehingga anak akan belajar beradaptasi dengan lingkungan konvensional selama mereka tahu bahwa “Di mana pun saya berada, ada aturan yang harus saya pahami dan ikuti.”
3. Kepatuhan (nurut) VS kepatuhan berkesadaran
Dalam filosofi Montessori, kepatuhan bukan sekadar “melakukan apa yang diminta.” Kita perlu membedakan antara anak yang patuh karena tekanan luar, atau patuh karena tidak punya inisiatif (kepatuhan robotik) dengan anak yang patuh karena dorongan dalam (patuh berkesadaran).
Sebelum menjabarkan masing-masing kepatuhan di atas mari kita bahas 3 tahap kepatuhan menurut filosofi Montessori (3 level of obedience)
A. Tahap kepatuhan berfluktuasi (inconsistence obedience)
Tahap ini terjadi pada anak usia 0-3 tahun. Anak pada tahap ini dikendalikan oleh insting dan dorongan dari dalam. Pada usia ini mereka memiliki Strong Will (kemauan kuat) yang merupakan tanda vitalitas pertumbuhan. Karakteristik anak pada tahap ini kadang nurut, kadang tidak. Bukan karena nakal atau suka membangkang tapi karena mereka belum punya kontrol penuh atas kemauannya dan kemampuan mental dan kontrol otot mereka belum stabil. Hal ini terjadi karena mereka sedang sibuk mengembangkan fungsi motorik dan sensorik. Memaksa kepatuhan pada usia ini hanya akan mematahkan semangat eksplorasi mereka.
Catatan untuk orang tua:
Jangan paksa anak harus selalu menurut, karena mereka belum punya kontrol penuh atas tubuh/pikiran. Memberikan pilihan untuk setiap hal menjadi persiapan menghadapi usia ketika anak sudah mulai sadar bahwa mereka memiliki kontrol.
Contoh: Daripada memaksa “Ayo mandi sekarang!”, lebih efektif dengan “Kamu mau mandi bawa mainan bebek atau bola?”. Ini memberi anak rasa kendali (power) tanpa melanggar batasan (limit).
B. Tahap kepatuhan berdasarkan kemauan (consistent obedience)
Tahap ini terjadi pada usia anak 3-6 tahun. Pada tahap ini, anak sudah mampu memahami instruksi dan memiliki kemampuan fisik serta mental untuk melakukannya. Anak sudah mulai memiliki kemampuan untuk menyelaraskan kemauan pribadinya dengan permintaan orang lain atau aturan lingkungan. Karakteristiknya adalah anak bisa patuh secara konsisten, namun mereka melakukannya karena ingin menyenangkan orang dewasa atau karena mereka sedang berlatih mengendalikan diri.
Mereka mulai memahami bahwa ada aturan di lingkungan (seperti merapikan mainan). Namun, mereka masih membutuhkan bantuan struktur dan contoh dari orang tua untuk tetap berada di jalur yang benar.
pada tahap ini (usia 3–6 tahun), anak mampu patuh, tetapi itu membutuhkan usaha mental (effort) yang besar bagi mereka. Mereka sedang belajar menyelaraskan keinginan pribadi dengan aturan sosial.
Catatan untuk orang tua
Jika orang tua terlalu otoriter di tahap ini, anak bisa terjebak menjadi Nurut Pasif (patuh karena takut/tidak punya inisiatif), bukan naik ke level berikutnya.
Contoh :
Situasi 1: Anak ingin memakai baju yang tidak sesuai cuaca (misal: mau pakai kostum Spiderman di acara formal/panas).
Montessori Aproach: Berikan validasi, lalu batasan: “Ibu tahu kamu sangat suka baju itu. Tapi sekarang kita akan ke acara yang gerah. Kamu mau pakai kaos biru atau kemeja ini agar tetap nyaman?”
Mengapa harus dilatih tahap 2: Melatih Penalaran & Pilihan. Anak belajar bahwa keinginannya (will) harus disesuaikan dengan konteks situasi (limits).
Situasi 2: Anak mulai bosan saat menunggu antrean atau menunggu makanan datang.
Montessori Aproach: Berikan “tugas” kecil: “Menunggu memang perlu usaha ya. Bisakah kamu membantuku menghitung ada berapa lampu di ruangan ini?”
Mengapa harus dilatih tahap 2: Melatih Menunda Kepuasan. Anak menggunakan kemauannya untuk mengalihkan rasa bosan menjadi aktivitas yang terkendali.
Situasi 3: Anak melakukan kesalahan (misal: memecahkan gelas karena ceroboh).
Montessori Aproach: Jangan memarahi pribadinya. Katakan: “Oh, gelasnya pecah. Kita perlu sapu agar tidak ada yang terluka. Kamu mau pegang pengki atau pegang sapunya?”
Mengapa harus dilatih tahap 2: Melatih Tanggung Jawab Berkesadaran. Anak belajar bahwa patuh pada prosedur keselamatan lebih penting daripada rasa takut disalahkan.
C. Tahap kepatuhan sejati /disiplin internal (joyful obedience)
Tahap ini terjadi pada usia 6 tahun ke atas. Inilah puncak dari perkembangan karakter dalam Montessori. Anak patuh karena mereka memahami nilai dan kegunaan dari aturan tersebut.
Karakteristik dari tahap ini adalah anak memiliki disiplin diri yang tinggi. Mereka melakukan hal yang benar tanpa perlu diminta, diawasi, atau diancam dengan hukuman. Mereka tidak menunggu instruksi. Jika melihat air tumpah, mereka akan mengambil lap dan membersihkannya karena mereka sadar lantai yang basah itu berbahaya dan tidak nyaman. Anak di level ini tidak akan “bingung” saat masuk sekolah konvensional. Mereka memiliki “kompas internal” yang kuat untuk mengikuti aturan di mana pun mereka berada karena mereka menghargai harmoni sosial.
Proses menuju Level 3 membutuhkan waktu yang panjang dan konsisten. Jika orang tua di rumah permisif (tanpa aturan) sementara sekolah memiliki aturan, anak akan gagal mencapai Level 3 karena mereka tidak melihat adanya nilai yang stabil. Konsistensi orang tua dalam menerapkan batasan dengan penuh kasih sayang adalah “jembatan” bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang berdisiplin tanpa kehilangan daya kritisnya.
Kepatuhan Pasif/ Nurut
Sering kali, anak yang terlihat “paling penurut” di kelas atau di rumah sebenarnya sedang berada dalam kondisi kehilangan inisiatif. Dalam psikologi dan pedagogi Montessori, ini adalah “lampu kuning” yang harus diwaspadai orang tua.
Anak yang patuh karena tidak punya inisiatif biasanya terbentuk dari lingkungan yang terlalu mendikte atau terlalu protektif (helikopter).
- Ciri Utama: Anak hanya bergerak jika ada instruksi spesifik. Jika tidak ada perintah, mereka cenderung diam, bingung, atau menunggu “aba-aba”.
- Penyebab: Terlalu sering dilarang melakukan hal mandiri (“Jangan, nanti tumpah!”, “Biar Mama saja yang kerjakan”), atau jadwal yang terlalu diatur ketat tanpa memberi celah bagi anak untuk memilih.
- Dampaknya: Anak kehilangan Executive Function—kemampuan otak untuk merencanakan, fokus, dan mengeksekusi tugas secara mandiri.
Bahaya jangka panjang
Anak yang patuh hanya karena tidak punya inisiatif sering kali menjadi bintang di sekolah konvensional saat SD karena mereka “mudah diatur”. Namun, masalah besar biasanya muncul saat mereka menginjak usia remaja atau dewasa:
- Mudah Dimanipulasi: Karena terbiasa mengikuti arus tanpa filter internal, mereka sulit berkata “tidak” pada ajakan negatif teman sebaya.
- Kecemasan Tinggi: Mereka merasa tidak aman jika tidak ada panduan tertulis atau instruksi atasan, sehingga sulit menjadi pemimpin atau inovator.
- Kehilangan Jati Diri: Mereka melakukan sesuatu untuk memuaskan orang lain, bukan karena pemuasan batiniah (internal satisfaction).
Mengapa Montessori “Memaksa” Anak untuk Punya Inisiatif?
Inilah alasan mengapa di sekolah Montessori anak bebas memilih (Freedom of Choice).
- Saat anak memilih “ingin mengerjakan puzzle”, mereka sedang melatih otot inisiatif.
- Saat mereka menaruh kembali puzzle itu ke rak tanpa disuruh, mereka sedang melatih Patuh Berkesadaran.
Anak yang “sulit diatur” di usia 0-3 tahun sering kali sebenarnya adalah anak yang memiliki inisiatif dan kemauan kuat yang luar biasa. Tugas kita bukan memadamkan api inisiatif itu agar mereka jadi “nurut pasif”, melainkan menyalurkan api tersebut agar menjadi Patuh Berkesadaran.
Anak yang punya inisiatif + punya batasan (limits) adalah individu yang akan sukses di masa depan, baik di sekolah konvensional maupun di kehidupan nyata.
Kepatuhan berkesadaran adalah hasil bentuk dari disiplin internal. Dan memerlukan jangka panjang untuk membentuknya.
Metode Montessori tidak sedang menciptakan anak yang liar, melainkan sedang membangun disiplin internal. Saat seorang anak terbiasa mengatur dirinya sendiri dalam batasan yang jelas, mereka tidak akan kesulitan saat masuk ke lingkungan baru (seperti sekolah konvensional). Mereka akan tahu bahwa setiap tempat punya aturan, dan mereka punya kapasitas mental untuk mengikutinya tanpa kehilangan jati diri.
Semangat parents 😊
Ditulis oleh Nurma