Anak Usia 0-6 Tahun Selalu Ingin Memimpin di Rumah?

Memiliki buah hati adalah hal yang membagiakan, namun ada kalanya orang tua juga merasa kewalahan dan kelelahan dengan sikap toddler yang berubah di setiap fasenya. Ada fase dimana anak ingin selalu memimpin atau mengatur orang tuanya dalam beraktivitas. Sehingga muncuk kekhawatiran apakah di masa mendatang anak akan jadi sulit di atur. Apakah perkembangan ini merupakan hal yang wajar dan sampai kapankah orang tua akan menghadapi sikap toddler seperti ini?

Dapat dibayangkan betapa dinamisnya suasana di rumah dengan si Kecil yang memiliki jiwa pemimpin.

Jadi sebetulnya sikap di atas adalah wajar dan normal terjadi.  Dan ini sebenarnya adalah tanda bahwa anak ini memiliki perkembangan kognitif yang baik dan rasa percaya diri yang tinggi. Puncaknya biasanya di usia 3 – 6 tahun, setelah memasuki sekolah SD biasanya ego mereka mulai melunak karena mereka mulai peduli dengan pendapat teman sebaya dan aturan sosial di sekolah. Jadi orang tua tidak perlu khawatir bahwa sikap ini akan terus melekat pada diri anak.

Justru sebaliknya, jika diarahkan dengan benar, sifat ini adalah modal kepemimpinan yang hebat,

Mari kita bahas satu persatu kekhawatiran orang tua akan sikap pada perkembangan fase toddler ini.

Kenapa Anak Ingin Selalu Memimpin?

      Memahami landasan teori dibalik perilaku anak pada usia ini akan sangat membantu agar kita tidak merasa “disetir”, melainkan melihatnya sebagai fase perkembangan yang sehat.

      Fenomena anak yang ingin selalu memimpin dan mengatur ini berakar pada 2 teori besar dalam psikologi perkembangan yaitu:

      • Menurut Erik Erikson, anak usia 1-3 tahun berada pada tahap otonomi vs rasa malu, yang kemudian berlanjut ke tahap inisiatif vs rasa bersalah pada usia 3-6 tahun. Di usia 4 tahun, mereka mulai merencanakan aktivitas, menciptakan permainan, dan menghadapi tantangan. Jika mereka dibiarkan memimpin dalam batas aman, mereka akan mengembangkan rasa percara diri dan kemampuan memimpin yang baik di masa mendatang. Mereka juga ingin melihat apa yang terjadi jika mereka yang memegang kendali, bukan orang dewasa. Bagi sebagian anak, mengatur jadwal atau urutan aktivitas memberikan rasa aman karena segala sesuatunya jadi terprediksi.
      • Menurut Jean Piaget, menjelaskan bahwa anak usia 3-6/7 tahun berada dalam tahap pra-operasional yaitu ciri utamanya adalah Egosentrisme. Egosentrisme disini bukan dalam arti sombong atau arti negatif melainkan, secara kognitif, anak belum mampu melihat sudut pandang orang lain. Mereka merasa cara mereka adalah cara yang paling benar. Ketika mereka mengatur orang tuanya, mereka sebenernya sedang mencoba mencocokan dunia nyata dengan “skema” atau gambaran mental yang ada di kepala mereka. Bagi mereka, hanya ada satu cara yang benar, yaitu cara mereka. Dalam hal ini memberikan mereka jabatan khusus di rumah seperti misalnya “asisten pengatur meja makan” atau “kapten pembantu pemilih sayuran” akan membantu menyalurkan keinginannya untuk memimpin ke hal yang produktif tanpa membuat orang tua merasa kewalahan.

      Apakah Harus Selalu Diikuti?

        Jawabannya Tidak Harus Selalu Diikuti. Jika anak selalu diikuti kemaunnya, anak bisa kehilangan kesempatan belajar tentang kompromi dan empati.  Membatasi keinginan anak untuk terus “memimpin justru adalah bentuk kasih sayang yang akan menyelamatkan masa depannya.

        Beberapa tujuan mengapa sebaiknya tidak selalu mengikuti kemauan anak.

        • Agar anak belajar bahwa orang lain juga memiliki keinginan. Usia 4-6 tahun anak mulai mengembangkan kemampuan bahwa orang lain memiliki perasaan, niat, dan pikiran yang berbeda dengan mereka.
        • Agar anak belajar bekerja sama. Anak belajar dari perilaku melalui observasi dan imitasi. Jika ia hanya belajar cara “memerintah”, ia tidak akan punya model perilaku mengikuti. Maka usia 3-6 tahun, jika mereka berada di sekolah atau komunitas dengan sistem child centre (e.g. Montessori method), maka anak akan belajar bahwa kita tidak harus selalu mengikuti kemauan satu orang.
        • Agar anak belajar tidak mudah kecewa dan frustasi. Kohut menyatakan bahwa agar anak tumbuh sehat mental, maka ia butuh mengalami perasaan kecewa yang optimal atau kegagalan kecil yang terkendali.

        Strategi menghadapi anak agar tidak harus selalu diikuti kemauannya adalah dengan menerapkan jalan tengah (the rule of alternating).

        Agar otonomi anak tetap terjaga tapi dia tetap diatur, maka dapat menjalankan beberapa cara berikut:

        Penerapan Konsep Kepemimpinan Bergilir Di Rumah:

        Sebelum menjalankan konsep kepemimpinan bergilir, harus menegaskan cara mainnya dengan jelas dan tentu saja harus disepakati bersama yaitu orang tua dan anak.

        Sesi ”anak bosnya” : berikan waktu 15-30 menit sehari di mana anak benar-benar boleh memimpin permainan (selama aman). Hal ini akan memuaskan kebutuhannya akan berkuasa.

        Sesi “orang tua kaptennya” : untuk hal-hal krusial (mandi, makan, waktu tidur, keamanan) tegaskan bahwa orang tua nya adalah kaptennya. Gunakan kalimat “dalam hal ini, mama yang pegang kemudi ya, kerena tugas mama menjaga kamu tetap sehat”.

        Menggunakan pilihan terbatas:

        Ini teknik yang paling ampuh untuk anak usia 4 tahun karena dia merasa tetap punya kendali, dengan pilihan yang diberikan orang tuanya.

        Contoh:

        Kalimat: Kamu mau kita lewat jalan sana, tapi sekarang kita harus lewat sini. Nah kamu mau jalan sambil lompat katak atau jalan jinjit seperti ninja?

        Kenapa berhasil?: Perhatiannya teralihkan dari “jalur mana” ke gaya jalan yang mana. Dia tetap memilih dan otonomi tetap terjaga.

        Kesimpulan:

        Orang tua tidak perlu takut dicap “kalah” oleh anak. Tetapkan batasan yang tegas tapi lembut (firm but gentle). Anda tetaplah “Nahkoda” di rumah, meski sesekali memberikan kesempatan anak memegang kemudi di jalur yang aman. Komunikasi dan menyepakati hal bersama adalah kunci agar anak juga merasa dari bagian keputusan yang akan dilakukan bersama.

        Ditulis oleh: Nurma